Senin, 22 Maret 2010

hipotesis

BAB IV
HIPOTESIS



A. Pengertian

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui sesuatu yang pada tingkat tertentu dipercaya sebagai sesuatu yang benar. Ia bertitik tolak dari dari pernyataan yang disusun dalam bentuk masalah penelitian. Untuk menjawab pertanyaan itu disusun suatu jawaban sementara yang kemudian dibuktikan melalui penelitian empiris. Jawaban-jawaban seperti itu banyak kita lakukan dalam kehidupsn sehari-hari. Misalnya, bila sepeda motor kita tidak mau hidup, misalnya kita menduga mungkin businya kotor, atau bahan bakarnya habis, atau ada yang tidak beres platinanya. Disini kita sudah membuat hipotesis bahwa mesin sepeda motor tidak mau hidup karena busi atau platinanya kotor. Tetapi pernyataan ini masih bersipat dugaan . Atas dasar dugaan itu kita mulai memeriksa businya, bensinnya, dan platinanya. Pada tahap ini kita mengumpulkan data untuk menguji hipotesis kita.

Hipotesis (hypo= sebelum ; thesis –pernyataan, pendapat) adalah suatu pernyataan yang pada waktu diungkapakan belum diketahui kebenaranya, tetapi memungkinkan untuk diuji dalam kenyataan empiris. Hipotesis memungkinkan kita menghubungkan teori dengan pengamatan, atau pengamatan dengan teori . Hipotesis mengemukakan pernyataan tentang harapan peneliti mengenai hubungan-hubungan antara variabel-variabel di dalam persoalan.

Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris. Hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang secara teoritis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya.

Secara teknis, hipotesis dapat didefinisikan sebagai pernyataan mengenai
populasi yang akan diuji kebenarannya berdasarkan data yang diperoleh dari sampel penelitian. Secara statistik hipotesis merupakan pernyataan mengenai keadaan yang akan diuji melalui statistik sampel. Sebagai contoh dapat dimulai dengan sebuah pertanyaan : apakah tamatan smu yang memiliki nilai EBTA tinggi akan mampu menyelesaikan studi didalam waktu yang relative lebih cepat ? pertanyaan ini dapat kita ubah menjadi pernyataan sebagai berikut : ada hubungan positif antara nilai EBTA di SMU dan prestasi belajar mahasiswa di perguruan tinggi. Kalimat yang terahir ini adalah bentuk suatu hipotesis yang menghubungkan dua variabel, yaitu nilai EBTA dan prestasi belajar. Dengan demikian hipotesis ini memberi pengertian yang harus dilakukan oleh peneliti.
Fungsi hipotesis yang seperti ini menurut Ary Donald adalah:
1. Memberi penjelasan tentang gejala-gejala serta me-mudahkan perluasan pengetahuan dalam suatu bidang.
2. Mengemukakan pernyataan tentang hubungan dua konsep yang secara langsung dapat diuji dalam penelitian.
3. Memberi arah pada penelitian.
4. Memberi kerangka pada penyusunan kesimpulan penelitian.

Supaya fungsi-fungsi tersebut dapat berjalan secara efektif, maka ada factor-faktor yang perlu diperhatikan pada penyusunan hipotesis, yaitu :
1. Hipotesis disusun dalam kalimat deklaratif. Kalimat itu bersifat positif dan tidak normatif. Istilah-istilah seperti seharusnya atau sebaiknya tidak terdapat dalam kalimat hipotesis. Contoh: Anak-anak harus hormat terhadap orang tua. Kalimat ini bukan hipotesis. Lain halnya jika dikatakan demikian : kepatuhan anak-anak terhadap orang tua mereka makin menurun.
2. Variabel (variabel-variabel) yang dinyatakan dalam hipotesis adalah variabel yang operasional, dalam arti dapat diamati dan diukur.
3. Hiotesis menunjukkan hubungan tertentu diantara variabel-variabel.



Syarat Penyusunan Hipotesis









Gambar 4.1


B. Menyusun Hipotesis

Hipotesis dapat disusun dengan dua pendekatan, yang per-tama secara deduktif, dan yang kedua secara induktif. Penyusunan hipotesis secara deduktif ditarik dari teori. Suatu teori terdiri atas proposisi-proposisi, sedangkan proposisi menunjukkan hubungan antara dua konsep, Proposisi ini merupakan postulat-postulat yang dari padanya disusun hipotesis secara induktif bertolak dari pengamatan empiris.

Pada model Wallace tentang proses penelitian dalam Bab II “penelitia sebagai proses ilmiah”telah dijelaskan penjabaran hipotesis dari teori dengan metode deduksi logis. Teori terdiri atas seperangkat proposisi, sedangkan proposisi menunjukkan hubungan diantara dua konsep. Misalnya, teori A terdiri atas proposisi-proposisi X-Y, Y-Z, DAN X-Z. Dari ketiga proposisi itu dipilih proposisis diminati dan relevan dengan peristiwa pengamatan , misalnya propoisi X-Y,bertitik tolak dari proposisi itu diturunkan hipotesis secara deduksi. Konsep-konsep yang terdapat dalam proposisi diturunkan dalam pengamatan menjadi variabel-variabel.




Penjabaran Hipotesis dari Teori


Proposi teori



Pengamatan Hipotesis
Gambar 4.2








Contoh:
Proposisi: Makin cepat perkembangan komunikasi, makin tinggi kecerdasan penduduk.

Dalam proposisi tersebut ada dua konsep, yaitu X – komunikasi dan Y= kecerdasan.
Kemudian kita lihat di suatu pemukiman penduduk (x) terdapat alat komunikasi apa saja dan bagaimana tingkat pemakaiannya. Misalnya, alat komunikasi yang ditemukan adalah surat kabar (Xr), pesawat radio (X), dan pesawat tv (x). Pemanfaatan alat komunikasi ini berbeda-beda pada setiap penduduk, karena itu disebut variabel (bervariasi, beragam), yaitu variabel x. kemudian kita mengamati tingkat pengetahuan umum mereka, misalnya dalam bidang politik, hukum, dan ekonomi. Variabel ini kita namakan Y, karena berbeda-beda pada setiap penduduk. Karena x beragam, dan y maka hipotesis dapat disusun: ada hubungan positif antara x dan y. Karena disusun secara deduktif, maka hipotesis seprti ini, disebut hipotesis deduktif.

Hipotesis dapat juga disusun secara induktif. Dari pengalaman kita di masa lampau, kita mengetahui bahwa, kecelakaan-kecelakaan kendaraan bermotor di jalan raya kebanyakan disebabkan oleh supir yang menjalankan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Bertolak dari pengalaman ini, kita menyusun hipotesis: Ada hubungan positif antara kecepatan laju kendaraan dengan kecelakaan lalu lintas.

Sehubungan dengan penyusunan hipotesis ini, Deobold B. Van Dallen mengemukakan postulat-postulat yang diturunkan dari dua jenis asumsi, yaitu postulat-postulat yang disusunberdasarkan asumsi dari alam, dan postulat-postulat berdasarkan asumsi proses psikologis. Postulat-postulat yang bersumber dari kenyataan-kenyataan alam adalah:

1. Postulat Jenis (natural kinds)
Ada kemiripan diantara obyek-obyek individual tertentu yang memungkinkan mereka untuk dikelompokkan ke dalam satu kelas tertentu.Ada kelompok orang berkulit putih, ada kelompok orang yang berkulit hitam, dan ada kelompok orang berkulit warna lain. Dengan postulat ini kita dapat menyusun hipotesis terhadap obyek pengamatan tertentu, apakah ia termasuk dalam kelompok x atau y.
2. Postulat keajekan (Constancy)
Di alam ini ada hal-hal menurut pengamatan kita selalu berulang dengan pola yang sama. Misalnya, pada waktu-waktu yang lalu kita menyaksikan bahwa matahari selalu terbit di sebelah timur dan terbenam di sebelah barat. Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman ini kita mempunyai alas an untuk menduga bahwa besok matahari terbit di sebelah timur.
3. Postulat Determinisme
Suatu kejadian tidak terjadi secara kebetulan, tetapi ada penyebabnya. Sebuah benda jatuh ke bawah kalau dilepas-kan dari suatu ketinggian karena ia ditarik oleh grapitasi bumi. Demikian juga kecelakaan lalu lintas di jalan raya tidak terjadi secara kebetulan, tetapi ada penyebabnya. Ada postulat sebab akibat yang menyatakan bahwa suatu peristiwa terjadi karena sesuatu atau beberapa sebab. Postulat ini dipakai untuk menyusun suatu hipotesis untuk menerangkan suatu peristiwa tertentu.


C. Kerangka Hipotesis

Jumlah variabel yang tercakup dalam suatu hipotesis dan bentuk hubungan diantara variabel-variabel itu sangat menentukan dalam menentukan alat uji hipotesis. Hipotesis yang hanya terdiri atas satu variabel akan diuji dengan univariate analysis. Contoh-contoh hipotesis seperti itu adalah:
1. Persepsi remaja terhadap kepemimpinan yang demokratis cukup tinggi.
2. Prestasi studi mahasiswa di tahun pertama cukup rendah.

Variabel persepsi remaja pada contoh pertama adalah variabel ordinal, sedangkan variabel prestasi studi pada contoh kedua adalah variabel interval. Pengukuran variabel ini menentukan pemilihan alat uji hipotesis.

Ada juga hipotesis yang mencakup dua variabel, yang akan diuji melalui bivariate analysis. Contoh:
1. Ada hubungan yang signifikan antara persepsi terhadap kepemimpinan dengan
pola asuh dalam keluarga di kalangan remaja.
2. Ada hubungan positif antara motivasi belajar dan prestasi studi di kalangan
Mahasiswa.

Contoh pertama menghubungkan dua variabel yang sama-sama diukur pada skala nominal, sedangkan contoh kedua menghubungkan dua variabel di mana variabel yang satu di ukur pada skala interval dan yang satunya pada skala ordinal.

Salah satu variabel pada hipotesis dengan bivariate analysis itu berfungsi sebagai variabel yang dijelaskan atau variabel tidak bebas, dan yang satunya berfungsi sebagai variabel yang menerangkan atau variabel bebas. Satu variabel dapat dijelaskan oleh seperangkat variabel bebassecara bivariate. Misalkan variabel y dapat diterangkan oleh variabel x1, tetapi juga dapat diterangkan oleh x2 terlepas dari x1; dan dapat juga dijelaskan oleh variabel x3 terlepas dari xi dan x2. Ketiga variabel bebas menerangkan variabel tidak bebas (y) itu terdiri atas 3 hipotesis, yaitu:

Hipotesis 1: Ada hubungan antara X1 dan y.
Hipotesis 2: Ada hubungan antara X2 dan y.
Hipotesis 3: Ada hubungan antara X3 dan y.

Kerangka dapat disusun dalam bagan seperti pada Gambar 4.3












Gambar 4.3



Hipotesis dengan analisis bivariate didasarkan pada asumsi ceteris varibus, yaitu asumsi bahwa tidak ada faktor lain yang mempengaruhi y kecuali variabel yang bersangkutan. Karena itu tidak dilihat hubungan di antara x1-x2-x3. Kalau tiga variabel itu secara bersama-sama dilihat sebagai variabel-variabel yang menjelaskan y, maka hipotesis itu mencakup lebih dari dua variabel akan diuji melalui multivariate analisys. Hubungan itu secara matematis dapat ditulis y = F (x1, x2, x3). Pola hubungan itu berbeda-beda . Pada Gambar 4.4 diperhatikan dua macam pola hubungan, yaitu Adan B.

D. Model Relasi
Hubungan variabel dengan variabel dalam suatu hipotesis mempunyai model yang berbeda-beda. Pengertian hubungan di sini tidak sama dengan pengertian hubungan dalam pembicaraan sehari-hari. Hubungan di sini diartikan sebagai relasi, yaitu hubungan dengan elemen yang terdiri dari pasangan urut. Himpunan yang demikian dibentuk dari dua himpunan yang berbeda. Misalkan himpunan yang satu adalah A, yang terdiri atas nama-nama mahasiswa: Yosep (Y), Maria (M), Ruberi (R), Emanuel (E), dan Agape (A). Himpunan yang lain adalah B, yang terdiri atas elemen-elemen nilai: 8, 7, 5, 6, dan 7. Dari kedua himpunan ini disusun himpunan baru sebagai hasil relasi dari A ® B. Himpunan baru ini kita namakan C di mana setiap elemennya terdiri dari pasangan elemen Adan B. Pasangan itu disebut pasangan urut karena yang pertama selalu diambil dari elemen A dan yang kedua selalu diambil dari B. Pasangan-pasangan itu ditentukan oleh definisi relasi. Misalnya, A mempunyai nilai tes ekonomi pada B. Dengan definisi itu A dipasangkan dengan B menurut anak panah seperti pada Gambar 4.5












Gambar 4.4


A B









Gambar 4.5






Himpunan C tampak sebagai berikut: C = {(Y,7), (M,8), (jt, 6), (E,7), (A,5). Himpunan C inilah yang dimaksud dengan relasi, yaitu relasi A ke B. Kalau kita katakan “ Baju si A merah,” maka pertanyaan ini hanyalah salah satu elemen dari relasi variabel “mahasiswa” terhadap variabel “warna baju,” yaitu (A, merah). Masih ada elemen lain lagi dalam himpunan itu, misalnya (B, putih), dan (C, hijau). Relasi tersebut dapat ditulis: {(A,merah), (B, putih), (C, hijau), (D, putih), (E, kuning)}.

Hubungan variabel-variabel pada hipotesis dapat digolongkan dalam tiga model, yaitu:
1. Model Kontingensi;
2. Model Asosiatif;
3. Model Fungsional.

Ketiga model ini akan berkembang lagi menjadi 10 jika dihubungkan dengan skala pengukuran sebagai berikut:
Skala Pengukuran
Variabel Variabel
Kontingensi Asosiatif Fungsional
Nominal
Ordinal
Interval
Ratio V
V
V
V
V
V
V

V
V

1. Model Kontingensi
Hubungan dengan model kontingensi dinyatakan dalam bentuk tabel silang. Misalnya hubungan diantara variabel “agama” dan variabel “partai politik” pada pemilu 1997. Kita ingin mengetahui hubungan antara agama dan politik pada 500 orang pemilih pada tahun 1997 di daerah tertentu. Hubungan tersebut tampak pada tabel hipotesis berikut:

Partai
Politik Agama Jumlah
Islam Kristen Katolik Hindu Budha
PPP
GOLKAR
PDI 89
291
45 3
30
2 3
20
2 4
6
0 1
3
1 100
350
50
Jumlah 425 35 25 10 5 500

Variabel “partai politik” dengan ketiga kategorinya adalah variabel nominal, dan variabel “agama” dengan kelima kategorinya juga nominal. Dengan menyilangkan kedua variabel maka didapat 3x5=15 kontingen dalam hubungan itu. Isi masing-masing kontingen dapat juga dibuat dalam bentuk persentase atau proporsi. Model kontingensi ini mempunyai bentuk umum: b x k (baris x kolom).
2. Model Asosiatif
Model ini terdapat diantara dua variabel yang sama-sama ordinal, atau sama-sama interval, atau sama-sama ratio, atau salah satu adalah ordinal atau interval. Variabel-variabel itu mempunyai pola monoton linier. Artinya, perubahan dari variabel yang bersangkutan bergerak naik terus tanpa turun kembali, atau sebaliknya turun terus tanpa naik kembali.
Hubungan kedua variabel tersebut disebut juga hubungan kovariasional, artinya berubah bersama. Jika variabel x berubah makin naik, maka variabel y juga berubah makin naik atau makin turun. Jika kedua variabel berubah ke arah yang sama, maka hubungan itu disebut positif. Keduanya bias sama-sama naik, artinya jika x naik, bersamaan dengan y juga naik; atau keduanya sama-sama turun, jika x turun, y juga turun. Hubungan itu dikatakan negative jika kedua variabel berubah pada arah yang berlawanan. Jika x naik y turun; atau sebaliknya, jika x turun, y naik.
Hubungan asosiatif atau kovarisioanal atau hubungan korelasi bukanlah hubungan sebab akibat, tetapi hanya menunjukkan bahwa keduanya sama-sama berubah. Misalnya hubungan antara “kodok ngorek” dan “hujan turun.” Kalau hujan turun, kodok ngorek. Tetapi, bukan turunnya hujan yang menyebabkan ngoreknya kodok, dan bukan pula ngoreknya kodok yang menyebabkan hujan turun. Kedua variabel itu hanya terjadi bersamaan.

3. Hubungan Fungsioanal
Hubungan fungsioanal adalah hubungan antara satu variabel yang berfungsi di dalam variabel lain. Misalnya hubungan antara “obat” dan “penyakit.” Obat dikatakan fungsioanal jika ia bias menyembuhkan penyakit. Berbeda dengan hubungan asosiatif di mana kedua variabel berdampingan satu dengan yang lain, pada hubungan fungsional variabel yang satu (independent) berfungsi di dalam variabel yang lain (dependent), sehingga variabel dependent itu mengalami perubahan. Misalnya hubungan antara produktivitas kerja dan usia. Variabel usia mempunyai pola monoton linier, tetapi tidak demikian halnya dengan produktivitas kerja. Katakanlah sampai usia 40 tahun, produktivitas itu naik, tetapi sesudah 40 tahun mulai menurun.
Hubungan fungsional adalah hubungan korelasional, tetapi hubungan korelasioanal belum tentu hubungan fungsional. Jika hubungan korelasi itu cukup tinggi (erat), maka dapat diduga bahwwa ada hubungan fungsional di antara kedua variabel.

4. Hipotesis Nol
Pembuktian hipotesis dilakukan dengan mengumpulkan data yang relevan dengan variabel-variabel yang bersangkutan. Proses pengujian hipotesis itu dapat disamakan dengan pengadilan satu perkara pidana. Di sana ada jaksa sebagai penuntut umum yang membawa terdakwa kedepan hakim dengan bukti-bukti berupa data yang telah dikumpulkannya. Data tersebut dikumpulkan dengan bertitik tolak pada hipotesisnya bahwa orang yang bersangkutan bersalah. Hipotesis jaksa inilah yang mirip dengan hipotesis yang disusun oleh peneliti, tetapi data tersebut diuji oleh hakim. Untuk itu hakim harus bertolak dari sikap praduga tak bersalah. Artinya, hakim tidak memihak kepada jaksa atau pendakwa. Sikap seperti ini juga merupakan syarat bagi wasit dalam memimpin suatu pertandingan. Asas praduga tak bersalah inilah yang dimaksud dengan hipotesis nol dalam penelitian ilmiah.
Hipotesis seperti ini kita temukan pula pada hubungan antara dua bilangan, misalnya a dan b. Hubungan itu bias a >b, atau a < b, atau a=b. Kalau hipotesis menyatakan bahwa a >b, maka hipotesis nol adalah negasinya, dan pernyataan yang mengatakan a > b ( a lebih besar dari pada b) adalah tidak benar. Ini berarti a < b atau a = b. Kalau hipotesisnya berbunyi a lebih besar atau sama dengan b, maka hipotesis nolnya adalah a < b. Dengan demikian jika a < b itu tidak benar, maka yang benar pasti a = b atau a > b. Dengan kata lain, jika hipotesis nol itu ditolak, maka alternatifnya adalah hipotesis peneliti harus diterima.
Dengan demikian kita mempunyai dua macam hipotesis, yaitu hipotesis operasional yang diharapkan oleh peneliti dan hipotesis nol. Hipotesis operasional disebut juga hipotesis alternative dari hipotesis nol. Dalam proses pengujian hipotesis, yang akan diuji adalah hipotesis nol. Kalau hipotesis nol itu diterima, maka hipotesis alternatif harus ditolak. Sebaliknya, jika hipotesis nol itu ditolak, maka hipotesis alternatif harus diterima. Hipotesis nol diberi notasi H0 dan hipotesis alternative diberi notasi H1 ,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar